Sinden



DESA KEMBARAN malam itu, begitu ramai. Panggung besar berdiri megah di sudut lapangan. Para pedagang sudah menjajakan dagangannya sejak pagi. Usai bedug maghrib,Orang-orang kampung telah memadati lapangan pojok desa itu. Mereka rela berdesak-desakan di depan panggung, untuk melihat dari dekat Sinden yang terkenal cantik dan merdu suaranya. Tak begitu lama, para pengrawit tiba dan menempatkan diri mereka di panggung. Seperangkat gamelan nampak berkilat di timpa lampu berwarna-warni. Orang-orang nampak bersorak-sorak riang, sebab jika pengrawit sudah siap pertunjukan akan segera mulai. Maka orang-orang semakin berdesak-desakan, untuk duduk di depan panggung.
“Jam berapa sinden itu datang?” Ucap Pak Lurah, gelisah
“Sebentar lagi Pak, mereka dalam perjalanan” Jawab Karyo
“Sampai kapan orang-orang itu, harus menunggu? Siapa yang kamu suruh menjeput?” Ucap Pak Lurah, sambil menyelipkan sebatang rokok ke mulutnya.
“Joyo Pak. Pakai mobil bapak dari jam lima sore. Kalau tidak ada apa-apa sebentar lagi akan sampai.” Jawab Karyo, sambil mencoba menenangkan diri.
“Kalau sampai tidak datang, kamu harus bertanggung jawab. Orang-orang itu, bisa ngamuk dan kalau sudah kecewa, mereka tidak akan memilihku lagi jadi Lurah” Ucap Pak Lurah, semakin tegang.
“Iya pak, saya tahu” Ucap Karyo
“Iya Pak, saya tahu. Tahu apa kamu ini. Sekarang sudah jam delapan malam tapi sinden itu belum datang.
Nampaknya kegelisahan tidak saja, menyelimuti Pak Lurah dan seluruh panitia. Orang-orang juga dirasuki kegelisahan, sebab terlalu lama mereka menunggu. Sehingga tanpa di komando, orang-orang itu berteriak-teriak.
“Ayo cepat di mulai, kami telah capak menunggu!!” Teriak seseorang
“Betul!!! Mana sindennya!!” Teriak yang lain
“Kita robohkan saja panggungnya!!” Teriak salah satu warga.
“Betul kita robohkan saja panggungnya!” Suara orang-orang dengan emosi
Melihat orang-orang sangat marah, pimpinan pengrawit dengan sigap. Mengkomando pengrawit yang lain.
“Kita mainkan lagu pembuka!” ucap pimpinan pengrawit setengah teriak
Bersamaan orang-orang akan merengsek maju ke panggung, tiba-tiba suara musik berbunyi bertalu-talu. Hingga mengurungkan niatan orang-orang yang marah itu, untuk merobohkan panggung. Saat musik pembuka akan berakhir, sinden dan Joyo datang ditempat itu.
“Syukurlah kalian telah datang, kalian telah menyelamatkan pertunjukan ini dari malapetaka. ” Ucap Pak Lurah
“Maaf kami terlambat Pak” Ucap Joyo, pelan
“Sudah tidak apa-apa, cepat Sinden itu,segera suruh naik ke panggung” Perintah Pak Lurah.
LAMPU WARNA-WARNI, menebar disegala sudut panggung. Saat sinden yang cantik dan bahenol itu, masuk panggung. Orang-orang berteriak-teriak girang.
“Selamat malam semua, sudah kangen pada saya” Ucap Sinden itu, genit
“Iya!!!” Jawab seluruh penonton yang memadati lapangan
‘Baik, malam ini saya akan menghibur anda sekalian nembang dan goyang habis-habisan. Setuju!!”
“Setuju!!!!!!” sahut penonton bersemangat
Tanpa bicara panjang lebar lagi, Sinden mulai beraksi dengan suara yang merdu, genit dan goyangan ala Inul Daratista.
BULAN TERUS BERJAGA. Joyo duduk diam di sudut panggung. Pak Lurah tersenyum puas, berdiri di samping Joyo.
“ Kamu kok tidak joget, biasanya kamu joget seperti kuda lumping yang kesurupan” Ucap Pak Lurah, sambil menghisap rokok kreteknya.
Joyo hanya tersenyum,mendengar ucapak Pak Lurah. Kedua matanya terus memandangi sinden yang beraksi diatas panggung.
“Kamu itu tidak usah takut, acara sudah berjalan lancar. Sinden sudah sampai kesini, walau terlambat sedikit. Sekarang senang-senanglah dulu, nanti kalau sudah selesai kamu ngantar lagi Sinden itu pulang” Ucap Pak Lurah
Lagi-lagi Joyo hanya tersenyum, mendengar perintah Pak Lurah itu. Ia tetap tidak bergeming dari tempat duduknya. Pak Lurah heran, melihat sikap Joyo yang nganeh-anehi itu. Sebab memang tidak biasa Joyo, bersikap diam seperti itu. Apalagi kalau mendengar sinden menyanyi dan bergoyang.
“Joyo ini pasti merasa bersalah” Ucap Pak Lurah dalam hati.
MALAM SEMAKIN PANAS. Sinden terus bergoyang dan melantunkan lagu-lagu dangdut. Orang-orang semakin girang dan ikut berjoget. Bahkan ada beberapa orang yang diamankan hansip kelurahan, gara-gara joget sambil meneguk minuman keras. Warga Desa Kembaran malam itu, benar-benar mendapatkan hiburan yang luara biasa. Semua orang bergembira, dan mengacungi jempol kepemimpinan Pak Lurah Waskito.
“Kita besuk pilih lagi saja Pak Waskito, biar kita bisa joget terus” Ucap Jamingun sambil bergoyang
“Bener Pak Waskito itu, tahu kebutuhan kita” Sahut Kirun
“Pokoknya kalau Pak Waskito jadi lurah lagi, kita minta Inul Daratista untuk manggung kesini” Ucap Lik Jiwo.
“Wah bugus Sinden ini, daripada Inul’ Sela Kirun
“Ya kta minta Inul dan Sinden ini” Sahut Jamingun
‘Wah iyo, betul itu” Sahut yang lain.
TEPAT PUKUL 12 MALAM. Pertunjukan itu berakhir. Orang-orang benar-benar terhibur dengan kehadiran sinden. Pak Lurah serta merta menghampiri Sinden dan Joyo.

“Terima kasih. Malam ini kamu memberikan hiburan bagi desa kami” Ucapak Pak Lurah sambil memberikan amplop pada Sinden.
”Tidak usah Pak, kehadiran kami disini untuk membahagiakan masyarakat bapak. Permisi. Ucap Sinden datar, sambil melangkah menuju mobil dimana Joyo telah menunggu di belakang stir.
Belum juga hilang rasa bingung Pak Lurah, mobil itu telah berlalu dari hadapannya. Pak Lurah seperti tersadar dari tidur, dengan tangan masih menggenggam amplop berisi uang. Ia semakin heran kenapa sinden itu, tidak mau menerima uang. Ia juga heran mengapa Joyo, jadi kurang ajar tidak pamit padanya. Padahal mobil yang di pakai mengatar itu, monil miliknya. Perasaan pak Lurah semakin bingung, dengan kejadian-kejadian yang mengherankan itu.
“Ah, semoga ini bukan firasat buruk” Bisik Pak Lurah dalam hati.
BEDUG SUBUH MEMECAH SUNYI. Orang-orang masih terlelap dalam tidurnya. Pak Lurah justru semakin gelisah, setiap ia mencoba memejamkan kedua matanya, tapi justru semakin terang benderang. Rasa kuatir semakin merambat keseluruh tubuhnya. Rumah besar itu menjadi sangat sunyi, hanya terdengar beberapa kokokan ayam jantan mengisyaratkan pagi.
Akhirnya Pak Lurah keluar dan duduk di teras rumah. Ia terus merokok untuk mengusir kegundahan hatinya. Selang beberapa saat, menjelang matahari merekah.
“Thing,.. thong… thing… thong….” Suara bel, menganggetkan lamunan Pak Lurah.
“Mohon maaf pak, kami terlalu pagi untuk bertamu” Ucap orang berperawakan besar dan berjacket hitam itu.
“Tidak apa-apa. Anda berdua ini siapa? Ucap Pak lurah, setelah kedua tamu itu, dipersilahkan duduk.
“Kami dari kepolisiaan, saya Sersan Agus dan ini Sertu Winata” Ucap Sersan Agus, memperkenalkan diri.
“Oh, ada yang bisa saya bantu Pak” Ucap pak Lurah gugup.

“Kami ingin memberitahukan, kalau mobil Bapak terjadi kecelakaan. Sopir bernama Joyo dan sinden yang ia jemput meninggal dunia” Jelas Sersan Agus
‘Kapan terjadinya pak?” Tanya Pak Lurah
“Kemarin sore sekitar jam lima” Jelas Sersan Agus
“Lho semalam sinden itu nyanyi di sini, Joyo yang menjemput dan mengatar pulang Sinden itu” Ucap pak Lurah bingung.
“Tidak mungkin Pak, mobil yang mereka tumpangi ringsek. Kedua orang itu terjepit dan baru bisa kita evakuasi saat adzan subuh tadi.” Sela sertu Winata.
“Jadi semalam adlah arwah mereka” Bisik Pak Lurah dalam hati
“Bagaimana pak? Tanya Sersan Agus
“E,e Saya akan urus jenasahnya Pak” Jawab Pak Lurah gelagapan.
MATAHARI MENYIRAM CAHAYA KE SELURUH JAGAT. Melepas jenasah Sinden dan Joyo dalam rumah keabadian. Orang-orang Desa Kembaran, masih terus bertanya-tanya. Benarkah semalam yang menghibur mereka arwah Sinden iitu.


Yogya. 2004


Pusara Leluhur



WARGA RINGIN KURUNG,sore itu berkumpul di depan cungkup makam. Mereka duduk berdoa bersama, untuk para penghuninya. Makam yang terletak di pojok desa itu, terancam akan digusur untuk pembangunan pabrik sepatu. Musyawarah yang dilakukan masyarakat mengalami jalan buntu, bahkan kepala proyek pembangunan pabrik mengancam akan mendatangkan pasukan pengamanan kalau masyarakat berani menghalangi. Belum juga selesai mereka berdoa, mereka mendengar teriakan Wiro.
“Siap-siap!!! Siap-siap!!!. Mereka datang!!
Orang-orang terkejut dan menghentikan doanya, lalu berbalik mendekati Wiro yang berdiri dengan nafas tersengal.
“Siap untuk apa?” Tanya Yu Sengkrang
“Iya, siapa yang datang” Teriak Lik Sukap
“Buldozer-buldozer itu, sudah datang di kelurahan” Jelas, Wiro
Orang-orang jadi panik, mendengar perkataan Wiro. Mereka saling bicara,saling menyanggah, dan saling menuding bagai suasana pasar di pagi hari.
“Sudah!! Sudah!!!, sekarang tidak usah saling menyalahkan. Kini kita justru semakin yakin, bahwa mereka akan nekat mengambil tanah makam ini” Teriak Mbah Sastro, menenangkan.
“Lalu gimana Mbah?” Tanya, Yu Sengkrang, geregetan.
“Kita harus bersiap-siap, untuk mempertahankan Makam ini sampai titik darah pengambisan” Jelas Mbah Sastro berapi-api.
SIANG TERUS MENERJANG. Orang-orang dengan kemarahan yang membara menyiapkan pedang, clurit, pacul, tombak, keris, dan senjata-senjata lainnya. Mereka menunggu kedatangan buldozer-buldozer yang akan membongkar makam leluhur mereka.
“Pokoknya kita jangan sampai lengah kita harus menjaga makam ini pagi, siang atau malam secara bergantian” Ucap Lik Sukap, sambil mengacungkan pedang keatas.
“Setuju!!!” Sambut masyarakat, bergemuruh.
SEMENTARA beberapa buldozer, sudah berhenti di depan kelurahan. Kepala Proyek dan beberapa kuli bangunan berbincang dengan Pak Lurah.
“Sampai kapan kita harus menunggu Pak Lurah” Tanya Kepala Proyek, tak sabar.
“Saya tidak mau rugi, buldozer-buldozer itu harus segera bekerja. Perlu Pak Lurah ketahui, tidak sedikit uang yang saya keluarkan untuk menyewa alat-alat berat itu.”
“Saya tahu Pak, tapi kita harus menunggu Bapak Kepala Kota Praja. Sebab beliau yang mengantongi ijin pembongkaran makam itu.” Jelas Pak Lurah, sambil mengisap rokok kreteknya.
“Itu hanya tekhnis saja Pak, sebab ijin pembongkaran makam sudah keluar”
“Tidak, saya tidak bertanggung jawab, kalau Bapak Kepala Kota Praja belum rawuh dan membawa surat ijin pembongkaran makam” Ucap Pak Lurah, sambil melangkah masuk kantor Kelurahan.
“Sompret!!, Lurah kampungan!!” Gerutu Kepala Proyek, sambil duduk di sebelah para kuli dan sopir buldozer yang sedang minum teh.
“Kriiiiiing!!!!” Suara telepon, mengagetkan Pak Lurah yang duduk dengan gelisah.
“Hallo, selamat siang” Suara lembut perempuan, mendinginkan kegelisahan Pak Lurah
“Ini Pak Lurah”
“Betul”
“Saya sekretaris Bapak Kepala Kota Praja”
“Oh.. iya, bagaimana Mbak?”
“Memberitahukan, kalau Bapak Kepala Kota Praja tidak bisa datang. Beliau pesan agar pelaksanaan pembongkaran makam ditunda besok pagi. Sebab beliau sendiri yang akan melakukan pembongkaran batu pertama” Terima kasih, selamat siang”
Pak Lurah meletakan gagang telepon dan segera keluar memberitahukan pada Kepala Proyek.
“Ini keterlaluan!! “ Ucap Kepala Proyek, marah.
“Jangan marah pada saya, kalau saya boleh usul biar saja pegawai Bapak tidur di pendopo sambil mempersiapkan buldozer-buldozer itu besok pagi”
“Ya, terima kasih!!” Jawab Kepala Proyek, ketus.
MALAM KELAM. Bulan disapu awan hitam. Orang-orang masih bergerombol menjaga makam. Mereka duduk-duduk di dalam cungkup makam, beberapa orang menyiapkan minum di perapian yang mereka buat di depan makam.
“Ada kabar buruk” Ucap Gino, anggota Hansip yang bekerja di Kelurahan.
“Tenang dulu, duduk baru bicara” Sela Lik Sukap.
“Makam ini, resmi akan di bongkar besuk pagi. Kepala Kota Praja yang akan meresmikan pembongkaran batu pertama” Jelas Gino, sambil duduk di pinggir lantai cungkup.
“Wah gawat ini, kalau Kepala Kota Praja yang meresmikan pembongkaran batu pertama. Makam ini akan di penuhi Polisi dan Tentara” Ucap Sastro, gelisah.
“Njur piye” Tanya Dirjo, bingung
“Ini siasat mereka, sengaja kita akan di adu dengan aparat’ Ucap Lik Sukap, sambil berdiri.
Orang-orang yang di luar makam, melangkah masuk cungkup. Mereka berembug mengatur siasat untuk melawan aparat. Semakin malam makam itu, tambah ramai. Seluruh masyarakat tumpah ruah di makam, bahkah mereka sudah membentuk pagar betis yang melingkari makam.
“Apapun yang terjadi, kita harus pertahankan makam ini!!!!” Teriak Sastro, bersemangat.
“Setuju!!!!” Sambut masyarakat, dengan mengangkat senjata-senjata yang mereka pegang. Pekikan-pekikan kemarahan warga membelah malam, Mata-mata merah mereka menyapu awan dan mengantar bulan kepembaringan.
PAGI tiba, cahaya matahari bergerak pelan. Orang-orang semakin gelisah. Mereka saling memompa semangat dan keberanian untuk menjaga dan mempertahankan makam.
Teriakan dan pekik terus menggelora, bagai kilatan-kilatan petir di musim penghujan. Genderang perang telah di tabuh di hati mereka, menyulut api kebengisan dan keganasan dan siap mencincang siapapun yang berani membongkar makam leluhur mereka.
“Mereka Datang!!!!” Teriak seseorang, sambil berlari menuju makam.
“Siap!!!” Perintah Lik Sukap, sambil mengangkat senjata
“Siap!!!!!!” Sambut warga, lantang
Sepasukan pengamanan datang di depan makam, mengamankan tempat itu. Buldozer-bildozer bergerak pelan dan berhenti berjajar di sisi kanan makam. Suasana tempat itu jadi tegang, warga diam tak bergerak. Bahkan yang paling mengherankan mereka nampak tidak ada penolakan, mereka justru nampak gembira menyambut kedatangan Kepala Kota Praja. Senjata-senjata mereka di sembunyikan dibalik baju.
Tiba-tiba beberapa mobil beriringan tiba di depan makam. Nampak Kepala Kota Praja yang di kawal dua orang ajudan, Kepala Proyek dan Pak Lurah berjalan menuju cungkup makam. Warga duduk diam, seperti menunggu sesuatu.
“Saudara-saudara sekalian, sebelum peresmian pembongkaran batu pertama di mulai. Yang terhormat Kepala Kota Praja akan memberikan sepatah dua patah kata. Waktu dan tempat kami haturkan” Ucap Pak Lurah, memecah kesunyian. Tepuk tangan gemuruh, mengiringi langkah Kepala Kota Praja.
“Terima kasih… Terima kasih….. Bapak-bapak, Ibu-ibu dan saudara-saudara sekalian. Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan, sebab sebentar lagi kampung ini akan memiliki pabrik berskala internasional. Kami harapkan warga masyarakat, natinya bisa membantu menjadi pegawai di pabrik tersebut. Baik dengan ini, saya resmikan pembongkaran batu pertama dan nanti akan diteruskan dengan Buldozer. Terima kasih” Ucap Kepala Kota Praja, mengakhiri sambutan.
Kepala Kota Praja melangkah dan palu sudah siap di tangan. Tapi saat palu akan di hantamkan di tembok makam.
“Praak!!” Sebuah telur busuk pecah di muka Kepala Kota Praja. Bau busuk dengan cepat terbang bersama angin, membuat seluruh aparat menutup hidung. Seorang ajudan segera meloncat dan membersihkan muka Kepala Kota Praja dengan sapu tangannya. Suasana tempat itu jadi gaduh, orang-orang seperti di komando bergerak membuat pagar betis dengan bergandengan tangan melingkari makam. “Dor!!! Dor!! Dor!!!” Suara tembakan peringatan, membumbung ke udara.
Tembakan peringatan itu, tidak membuat masyarakat jadi surut nyalinya. Mereka justru meringsek maju sambil mengacung-acungkan sanjata yang di bawanya.
“Makam ini akan menjadi kuburan masal bagi kalian!!!” Teriak Kepala Kota Praja, sambil muntah-muntah.
Orang-orang semakin berang mendengar ancaman Kepala Kota Praja, Lik Sukap berlari akan menusukan pedang ke tubuh Kepala Kota Praja. Melihat Kepala Kota Praja terancam, seorang ajudan segera menarik tangannya masuk mobil dan menyingkir dari tempat itu. Pak Lurah yang ketakutan juga ikut lari tunggang langgang.
Udara semakin panas, orang-orang sekarang berhadapan dengan aparat keamanan. Buldozer-buldozer meraung-raung bergerak mendekati tembok makam. Orang-orang tak mampu mendekati dan menghentikan laju Buldozer. Sabab sepasukan keamanan terus berjaga disisi kanan kiri buldozer.
“Kita harus hentikan buldozer itu!!!” Teriak, Wiro
“Jangan sampai buldozer-buldozer itu merobohkan tembok makam!!!” Teriak yang lain.
Buldozer terus bergerak mendekati cungkup makam. Tiba-tiba Mbah Sastro meloncat di atas Buldozer dan siap membabat leher pengemudinya.
“Dor!! “ Sebuah peluru, menembus dada Sastro. Ia terhuyung dan jatuh di pinggir Buldozer.
Orang-orang menjerit, melihat Mbah Sastro tertembak. Sebagian dari mereka lari karena takut, ada juga yang diam menghentikan perlawanannya ketika bebarapa tembok makam sudah hancur.
“Kita harus tetap mempertahankan makam ini sampai titik darah penghambisan” Teriak Lik Sukap, sambil meloncat di depan cungkup.
“Bangsat!!! Lebih baik kalian kubur kami disini!!”, Teriak Yu Sengkrang, histeris.
Beberapa orang itu, terus mempertahankan cungkup makam. Teriakan dan pekik mereka, pelan-pelan menghilang saat Buldozer menggasak cungkup makam. Dalam waktu sekejab bangunan makam itu sudah rata dengan tanah. Bersama terkuburnya Yu Sengkrang, Lik Sukap, Wiro, Gino, dan beberapa warga yang lain.
Senja menempatkan mentari di peraduan. Makam leluhur mereka, telah hilang, bersama beberapa warga yang terkubur ditanah itu.
“Tanah makam itu milik kami, disana juga kami akan di kubur” Ucap salah satu warga, sambil melangkah pergi yang diikuti masyarakat yang lain.

Sanggar Komunitas Seni Timoho Yogya, 2003



Ziarah Idul Fitri


AKHIRNYA Handoko, duduk di kereta api eksekutif Taksaka satu yang menuju Yogyakarta. Hatinya melonjak-lonjak penuh kegembiraan yang luar biasa dahsyatnya. Kereta api bergerak meninggalkan Stasiun Gambir. Pikirannya sudah sampai di kampung halaman, jauh mendahului kecepatan Kereta api yang melaju sangat kencang.
Sejak dua puluh tahun yang lalu Handoko, bermimpi untuk dapat menginjakan kaki di kampung kelahirannya yang penuh keramahan dan kesederhanaan para penghuninya itu. Kampung yang selalu melintas-lintas dalam setiap ranjang mimpinya. Kenangan mandi di sungai yang bening airnya, naik kerbau, main gobak sodor, mencari belut di sawah, menimba air untuk mengisi bak mandi. Handoko juga masih ingat betul saat guru ngajinya, membentak dan memarahi lantaran Ia tidak mampu menghafal surat Yasin. Handoko juga sangat ingat, tradisi di keluarganya sesudah sholat Hari Raya Idul Fitri. Semua keluarga berkumpul dan berjalan bersama ziarah di makam Bapak.
Ziarah di makam Bapak, hanya Handoko rasakan sekali saat masih berumur sepuluh tahun. Sebab setelah itu Ia harus tinggal di Jakarta di rumah Budenya sampai dewasa. Pekerjaan di Jakarta benar-benar membuat nurani dan kemanusiaannya mati. Setiap detik, setiap jam dan setiap matanya terbuka hanya bagaimana mendapatkan uang dan uang. Hidup Handoko, selalu dihantui kekawatiran dan ketakutan bila hidup miskin. Maka niatan untuk mudik lebaran tahun ini sudah tak terbendung lagi, apapun yang terjadi Ia harus pulang, apalagi simboknya dalam surat sudah wanti-wanti agar Ia pulang dan ziarah di makam Bapak.
Menjelang senja kereta api berhenti di Stasiun Tugu. Bergegas Handoko, turun dan sengaja naik andong agar bisa melihat-lihat kota Yogya yang sudah lama ditinggalkan. Handoko benar-benar bagai turis domistik yang baru melihat Yogya pertama kali. Hampir semua sudut-sudut kota sudah berubah, Maliboro, Alun-alun, sepanjang jalan Gondomanan, Kotagede, semua sudah berubah.
“Rupanya kemacetan juga sudah menghantui di kota yang penuh berbagai macam predikat ini.” Ucap, Handoko dalam hati.

Jam tujuh malam Handoko, sampai di rumah. Rumah peninggalan Bapaknya ini tak banyak perubahan, kecuali warna cat yang membilas pintu dan jendela. Simbok dan adiknya sudah menunggu di kursi bambu depan rumah. Rukmini adik satu-satunya itu, meloncat dari kursi saat Handoko, masuk pekarangan rumah.
“Mas dari jakarta Jam berapa?’
“Bawa oleh-oleh apa Mas?”
Rukmini terus nerocos menghujamkan pertanyaan-pertanyaan, sambil merebut tas dari genggaman Handoko.
“Sudah, biar Mas Handoko istirahat dulu” Ucap Simbok
“Biar saja Mbok, aku seneng. Lagi pula aku juga tidak pernah ketemu” Ucap, Handoko sambil memeluk perempuan yang telah melahirkannya itu dengan sangat erat. Ia benar-benar sangat rindu, sudah lama sekali Ia tak merasakan pelukan Simboknya. Ia seperti masih umur lima tahun dalam dekapan Simbok, Tanpa terasa Handoko meneteskan air mata begitu juga dengan Simboknya.
“Simbok sehat to?” Tanya Handoko, pelan
Simbok mengangguk sambil melepas pelukannya. Mata yang sayu itu terus menatap Handoko, tak kedip.
“Mas kok di luar to, sudah tak buatkan minum di meja ruang tengah” Suara Rukmini memecah kesunyian. Handoko dan simboknya seperti tersadar dari lamunan.
Malam itu pertama kali Handoko makan bersama dengan orang-orang yang sangat dirindukan selama ini. Simbok dan Rukmini juga merasakan kegembiraan yang sama seperti yang dirasakan Handoko. Setelah makan Rukmini meminta Handoko bercerita pengalamannya kerja di Jakarta. Bahkan malam itu mereka tidur jam satu malam hanya untuk mendengarkan cerita Handoko hidup di Jakarta.
Pagi itu beberapa tetangga berdatangan. Kabar kepulangan Handoko, menjadi pembicaraan utama di kampung. Ada yang hanya ingin melihat wajahnya, ada juga yang memang ingin tahu pekerjaan Handoko di Jakarta.
“Kamu masih ingat aku to Le?” Tanya perempuan setengah baya itu, sambil mengulurkan tangannya yang sudah mulai berkerut.
Handoko, menyambut uluran tangan itu, dengan penuh hormat. Tapi Ia benar-benar tidak ingat, siapa perempuan yang berdiri tepat dihadapannya.
“Aku Mbah Rawit, waduh kamu lupa to. Dulu kamu sering tak gendong” Jelas perempuan itu sambil tersenyum.
“Maaf Mbah, saya lupa”
“Ya ndak apa-apa, Lha wong sudah lama ndak ketemu je”
Seharian itu, banyak tetangga yang datang. Dari yang tua-tua sampai temen-temen Handoko semasa kecil. Mereka sangat ramah dan baik menyambut kedatangannya. Handoko seperti orang asing yang baru pertama kali mereka lihat.
Malamnya Rukmini dan Simboknya, sengaja tidur lebih awal karena capai seharian menerima tamu, hingga Handoko tak ada teman ngobrol. Ia duduk di ruang keluarga yang tidak terlalu luas, pakirannya melompat jauh ketika Bapaknya masih hidup. Sepertinya Bapaknya ada di sebelahnya. Beliau duduk menatap Handoko, sambil mengisap rokok klembaknya.
“Kapan datang?”
“Kemarin pagi” Jawab Handoko, pelan
“ Mestinya setiap tahun kamu datang ke tempat Bapak, Jangan hanya kalau libur. Kamu tidak kangen sama Bapakmu ini”
“ Ya, kangen Pak, tapi sulit mendapatkan cuti dari kantor”
“Ya sudah, sekarang kamu sudah kesini, cepat kerumah Bapak”
Tiba-tiba sosok Bapaknya hilang dari tempat duduk.
Suara derit roda kereta api yang bergesekan dengan rel, membuyarkan semua lamunannya. Handoko geragaban dan mengusap kedua matanya yang tidak gatal. Dan saat itu juga, sudah berdiri di sampingnya seorang pegawai restorasi menawarkan makan.
“Pak silahkan makan siang dan Bapak mau minum teh atau kopi?”
“ Teh saja” Jawab, Handoko.
Setelah makan dan minum Handoko, menjadi semakin bingung, sebab Bapaknya sudah duduk di sebelahnya. Memakai baju putih dan celana hitam melihat Handoko sambil tersenyum.
“Kamu itu tak tunggu kok tidak terasa kalau di tunggu” Ucapnya pelan.
“Bapak menunggu saya?” Jawab, Handoko binggung.
“Katanya mau kerumah Bapak” Jawab Bapak heran
“Aku mau kerumah Bapak?” Tanya, Handoko tak kalah heran
“Iya, kamu mau ziarah to? Jelas Bapak
“Iya Pak” Jawab, Handoko penuh keraguan
“Ayo, bareng Bapak” Ajak, Bapak Handoko sambil berdiri dan menggandeng tanganya.
Seperti orang yang terbius Handoko, mengikuti ajakan Bapaknya. Sungguh fantastis jalanan yang dilalui Handoko, sungguh cerah dan halus. Bunga-bunga bernekaran di kanan kiri jalanan. Orang-orang yang bertemu Handoko, semua menunduk hormat. Hingga bapaknya mengajak masuk di pemakaman. Handoko hanya mampu mengikuti apa yang di lakukan Bapaknya. Hingga berhenti di dua buah kundukan makam. Bapak meminta Handoko, untuk jongkok dan berdoa, Ia mengikuti permintaan Bapaknya itu. Tapi alangkah kagetnya Handoko, ketika melihat kedua gundukan itu. Ia tampar sendiri kedua pipinya.
“Tidak mimpi” Pikirnya dalam hati.
“Kamu tidak mimpi, ini sungguhan” Ucap Bapak, seperti mengetahui apa yang ada di pikiran Handoko .
Handoko, semakin mencermati nama yang tertulis di kayu nisan yang menancap di gundukan tanah di depan Bapaknya jongkok dan berdoa.
“Suparjo, meninggal 10 Juni 1980” Handoko, membaca dalam hati.
Handoko semakin bingung, bagaimana mungkin orang yang sudah di makamkan berdoa untuk dirinya sendirinya.
Angin bertiup kencang, menghamburkan dedaunan kering diseputar tempat Handoko jongkok. Ia kemudian berdoa di gundukan yang terletak persis didepanya. Handoko, dilanda kecemasan yang luar biasa dan seperti tidak percaya, ketika matanya melihat tulisan di kayu nisan yang menancap di gundukan tanah. Lagi-lagi Handoko, menepuk kedua pipinya, untuk meyakinkan kalaut tidak mimpi. Matanya terus menatap tajam tulisan di kayu nisan itu.
“Handoko, meninggal 10 Nopember 2000” Suaranya, seperti tersangkut di tenggorokan. Bagaimana mungkin namaku ada di kayu nisan ini?”,
Handoko menatap arloji untuk melihat tanggal. Alangkah terkejutnya Handoko, bahwa tanggal di arlojinya menunjukan tanggal 10 bulan sebelas tahun 2000. Belum juga rasa terkeujutnya hilang, tiba-tiba Bapaknya sudah memegang tangannya.
“Tidak Pak, jangan Pak” Pintanya memohon sama Bapaknya
“Kamu harus temani Bapak, Kita akan tinggal di rumah Bapak” Ucap Bapaknya sangat lembut dan pegangan tangannya semakin kuat
Handoko meronta sekuat tenaga, sambil memohon agar Bapaknya tidak mengajak tinggal bersamanya. Akhirnya bapaknya melepaskan pegangan tangannya lalu memeluk Handoko dengan penuh kasih sayang.
“Pulanglah Nak, tapi seringlah kau tengok Bapak” Ucapnya lirih
Handoko mengangguk dan cepat-cepat pergi dari tempat itu. Menyusuri jalanan yang penuh kedamaian. Hingga tak terasa tubuhnya begitu lemas, kaki kanannya terasa ngilu. Sedang tangan kanannya sudah di tusuk Jarum infus. Simbok dan adiknya Rukmini sudah berdiri di sisi tempat tidur yang serba putih itu sambil menangis. Mereka memeluk dan mencium Handoko.
“Ada apa Mbok” Tanya Handoko pelan?
“Kereta Api yang kamu tumpangi bertabrakan dan puluhan orang meninggal dan terluka” Ucap Simbok sambil menangis.
“Jadi aku… ?”
“Benar kamu selamat” Jelas Simbok dengan menangis
Adzan Magrib berkumandang ke segala penjuru raya, bersama senja menggelantung di cakrawala. Mengumandangkan kebesaran Tuhan.
“Bapak damailah di pembaringanmu, aku pasti ziarah di rumahmu” Ucap Handoko”. Sambil meneteskan air mata.

Untuk Almarhum Bapak
Yogyakarta, 2002