Sekar Panggung Kisti


KISTI, begitu orang-orang kampung Kembangan memanggilnya. Gadis berwajah cantik dan berkulit putih, berusia kurang lebih 18 tahun itu, setiap hari menghabiskan hari-harinya dengan menari. Kedua orang tuanya, sudah tak mampu lagi membendung keinginan putri satu-satunya itu, untuk tidak menari. Padahal mereka berharap anak gadis itu, untuk segera kawin dan punya anak. Sebab hampir semua gadis di Kampung Kembangan, umur 18 tahun merupakan aib besar jika belum menikah. Sudah belasan pemuda yang melamar Kisti, namun semuanya pulang dengan tangan kosong. Kisti sangat lihai untuk menolak dengan halus, setiap pemuda yang melamarnya. Orang tuanyapun juga heran, hampir semua pemuda yang di tolak tidak ada satupun yang dendam dan sakit hati. Mereka justru bangga akan keteguhan hati dan sikap Kristi yang ingin tetap menari.
“Nduk, sampai kapan, kamu akan menari? Tanya Ibunya,ketika menemui Kisti di kamar tidurnya
“Kenapa Ibu selalu tanya seperti itu?” Jawab Kisti, sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur
“Kamu akan jadi perawan tua, kalau tidak memutuskan untuk segera kawin. Apa yang kamu cari dengan menari, toh akhirnya ke dapur juga” Ucap, perempuan setengah baya itu.
“Ibu tidak usah kuatir, aku pasti akan Kawin” Ucap Kristi
“Kapan dan dengan siapa?” Tanya Ibunya, penuh kegembiraan
“Suatu saat akan aku perkenalkan dengan Ibu dan bapak” jawab Kisti sekenanya.
“Jawabanmu selalu itu-itu saja, besuk, lusa, bulan depan, tahun depan” Sahut Ibu Kisti dengan sewot.
“Lalu aku mesti jawab apa? Ibu selalu tanya itu-itu juga” Ucap Kisti Jengkel
“Sudahlah, jangan pernah menyalahkan Ibu, kalau kamu jadi perawan tua” Ucap Ibu Kisti, sambil keluar kamar.
SIANG MERANGKAK SENJA. Bias cahaya kemerahan membelah cakrawala. Kisti menyiapkan segala perlengkapan menarinya. Bedak, lispstik, pakaian tari, di masukkan di dalam tas hitam. Malam itu, Kisti diundang menari di tempat Pak Wiryo yang mengkhitankan anak sulungnya. Sudah menjadi kebiasaan di kota itu, jika mempunyai hajatan, baik itu pengantin,khitanan, syukuran selalu mengundang Kisti untuk menari. Maka warga kota itu, terasa ada yang kurang bila mempunyai hajatan dan Kisti tidak menari.
“Sudah siap Mbak Kisti” Ucap seorang pemuda, setelah matanya melihat Kisti keluar rumah.
“Sudah. Ayo berangkat” Jawab Kisti, sambil membonceng sepeda motor pemuda utusan Pak Wiryo itu.
Rumah Pak Wiryo, sudah penuh para tamu. Para undangan itu, sengaja datang sebelum Kisti menari. Maka tak heran rumah Pak Wiryo jadi penuh dan sesak. Apalagi di sepanjang jalan, para pedagang memasang tenda-tenda untuk menjajakan dagangannnya. Maka hajatan itu, seperti perayaan pasar malam. Setelah para tamu makan, Kistipun muncul dengan alunan musik jaipong. Para tamu tepuk tangan meriah, semua orang memuji kecantikan dan keluesan Kisti dalam menari.
“Wah, memang cantik dan luwes anak itu? Ucap seorang yang duduk di kursi barisan depan.
“Betul. Nak Kisti itu, menari apapun selalu luwes dan juga cantik” Sahut perempuan yang duduk di sebelahnya.
“Sayang, tidak ada satupun pemuda yang dapat memilikinya” Ucap seorang bapak yang duduk di pojok, sambil terus memperhatikan gerakan-gerakan Kisti.
“Kisti belum mau, kisti masih ingin terus maenari” Sahut perempu berkebaya hijau yang teranyata istrinya itu.
Semua tamu, memuji-muji Kisti. Bahkan Pak Wiryo ikut-ikutan di puji karena mendatangkan Kisti dalam hajatannya. Bahkan para pemuda sengaja meminta ijin pada Pak wiryo untuk mengantarkan Kisti pulang.
HAJATANPUN USAI. Kisti memasukan segala perlengkapan tarinya di tas hitam. Sementara di luar rumah Pak Wiryo, lima orang pemuda sedang bersitegang berebut untuk mengatar Kisti pulang.
“Tidak bisa, Pak Wiryo dari awal sudah meminta saya untuk mengantar” ucap Balu, sambil mengisap rokok filternya.
“Ndak bisa, Kisti yang menjemput aku dan aku yang akan mengatarnya” Sahut Duwek, sombong.
“Sudah kalian tidak usah berebut, aku saja yang mengantar” Sela Paijo, sambil cengengesan.
“Kalian tidak usah berebut, Pak Wiryo sudah memintaku untuk mengantar Kisti” Ucap Prembun, sambil duduk di atas jok motornya.
“Pak Wiryo juga memintaku untuk mengantar” Sahut Genthong, sambil mendorong tubuh Prembun hingga terjengkang dari motor.
Perselisihanpun terjadi, diantara kelima pemuda itu. Mereka saling ngotot, saling mendorong hingga terjadi perkelahian. Orang-orang yang melihatpun takut melerai bahkan Pak Wiryo juga ketakutan. Sebab kelima pemuda itu, terkenal jagoan dikampung itu. Maka tak heran kalau suasana rumah Pak wiryo jadi kacau.
“Ada apa Pak?” Tanya Kisti saat bertemu Pak Wiryo
“Lima orang pemuda berkelahi, mereka berebut mengantar Nak Kisti” Jawab Pak Wiryo, sambil memegang kepalanya.
“Oh, begitu” ucap Kisti tenang, sambil melangkah keluar
“Nak Kisti jangan keluar dulu, nanti malah tambah ribut’ Ucap Pak Wiryo
“Tidak apa-apa Pak, saya akan menyelesaikannya” Jawab Kisti, sambil melangkah keluar rumah.
Kelima pemuda itu, masih terus berkelahi. Mereka saling menendang, memukul, mendorong. Bahkan Genthong yang bertubuh gendhut itu, sudah berdarah pelipis kanannya.
“Berhenti!!!” Teriak Kisti, sambil memegang tangan kanan Prembun
Mendengar suara Kisti, kelima pemuda itu, menghentikan perkelahiannya. Mereka menunduk malu dihadapan Kisti. Mereka mencoba bersikap manis pada Gadis penari berwajah cantik itu.
“Kalian berkelahi hanya untuk mengantar aku. Kalian tidak usah repot-repot, aku tidak mau diantar pemuda-pemuda berandalan seperti kalian” Ucap Kisti, sambil melangkah mendekati seorang pemuda yang duduk di jok motornya.
“Kamu mau mengantar aku” Tanya Kisti, sambil duduk di jok belakang
“E.ee ya..ya, saya mau” Jawab pemuda bernama Bayu itu, sambil menstater motornya dan hilang di kegelapan malam.
BULAN TERTUTUP AWAN. Burung malam menjadi saksi kedua anak manusia berlainan jenis itu, menerobos kegelapan. Angin menebarkan dingin kebengisan.
“Mbak kita berhenti dulu” Ucap Bayu, sambil mematikan mesin sepeda motor
“Berhenti bagaimana? Kamu jangan macam-macam ya?” Ucap Kisti, penuh kecurigaan.
“Saya tidak akan macam-macam ,kalau Mbak Kisti mau saya cium” Ucap Bayu, sambil tertawa cengengesan
“Kurang ajar, kamu anggap apa aku ini” Bentak Kisti
Ayolah Mbak” Rayu Bayu, sambil memoncongkan mulutnya akan mencium Kisti
“Plak!!!” Kisti menampar pipi Bayu
“Sompret!!” Keluh Bayu, sambil mengelus pipinya yang panas.
“Pergi kamu!!! Bajingan!! Pergi!!!” Teriak Kisti
Melihat kemarahan Kisti, Serta merta Bayu menstater motornya dan bergegas pergi dari tempat itu.
MALAM SEMAKIN LARUT,Bulan bercahaya perak. Kisti mempercepat langkahnya agar segera sampai. Namun belum lagi beberapa meter berjalan, Ia merasa ada langkah yang membuntuti dibelakangnya. Ia berhenti sejenak, untuk menyakinkan bahwa ada orang yang sengaja membutinya. Kisti tiba-tiba di sergap ketakutan yang luar biasa. Ketika sesosok tubuh kekar, dengan penutup muka sudah berdiri di depannya.
“Siapa kamu!!” Teriak Kisti, gemetar
Sosok kekar itu, tak menjawab pertanyaan Kisti. Namun dengan cepat meraih tangan Kisti dengan paksa. Kisti meronta-ronta dengan ketakutan yang luar biasa. Teriakan-teriakan Kisti lenyap oleh gelapnya malam. Tubuh kekar itu, terus menyeret Kisti dalam semak-semak. Lalu dengan gesit merobek baju Kisti.
“Tolong!!! Tolong!!! Jangan!!!” Teriak Kisti, sambil terus meronta sekuat tenaga.
Teriakan dan rontaan Kisti, membuat sosok kekar itu, semakin buas. Namun tiba-tiba
“Plak!! Plak!!” Bogem mentah, mendarat di kedua pipi Kisti
Pukulan itu, membuat kepala Supeni pening. Tenaganya semakin lemah hingga rontaan dan teriakan supeni semakin tak bertenaga dan pingsan. Sosok kekar itu, dengan beringas melepas pakaian Kisti dengan paksa. Lalu dengan leluasa memperkosa tubuh tak berdaya itu, bagai anjing kelaparan.
PAGI MENJELANG. Pak Wiryo tersenyum tipis. Betapa ia masih teringat pergumulannya semalam. Ia juga masih teringat dengan tangan kekarnya,ia setubuhi Kisti Sekar Panggung itu, dengan penuh birahi.

Komunitas Seni Timoho Yogyakarta, 2004



Manten Anyar

SUPENI, harus menerima kenyataan dengan menerima pinangan dari seorang pemuda bernama Sukendar. Orang tuanya memang sudah sepakat untuk menjodohkan mereka, agar tali persaudaraan kedua keluarga itu tidak putus. Walau tidak di landasi oleh cinta pernikahan kedua sejoli ini, berlangsung meriah. Orang tua Supeni sengaja mendatangkan kelompok campur Sari, untuk memeriahkan pesta perkawinan putri satu-satunya itu. Kondangan yang datangpun terbilang cukup banyak untuk sebuah perkawinan di sebuah kampung.
SENJA TIBA. Orang-orang telah meninggalkan acara pesta. Rumah Supeni kembali sepi seperti sedia kala. Ibu Supeni, sudah tidur sejak pesta usai. Rasa lelah dan capek benar-benar menggrogoti seluruh penghuni rumah itu. Kursi, meja dan perlengkapan pesta sudah ditata rapi disudut rumah. Para pemuda dengan cepat membereskan segala perabotan pesta sebelum petang.
Ranjang pengatin yang sudah dihiasi berbagai bunga dan kelambu warna merah muda yang menyelimuti seluruh ranjang begitu indah. Aroma bunga yang menebar keseluruh ruangan menambah kesejukan bagai di alam impian. Supeni dan Sukendar tak mampu menahan gejolak, rasa gelisah terus menggelanyuti perasaan mereka. Kamar pengatin berukuran 4x4 meter itu, tak menawarkan bunga-bunga cinta. Malam pengatin yang mestinya penuh gelora cinta, mereka lewati dengan diam tak bertegur sapa.
SEPEKAN sudah usia perkawinan mereka, Supeni telah di boyong ke rumah Sukendar. Namun malam demi malam, justru semakin menyiksa perasaannya. Kamar yang mestinya mampu menjadi tempat merebahkan segala kepenatan batinya, kini tak ubahnya bagai ruang pengap yang menyesakkan dada. Supeni yang ia harapkan menjadi tambatan kegundahannya, tak lebih bagai sebongkah batu. Diam dan sunyi.
“Untuk apa kamu, mau aku nikahi?” Tanya Sukendar
“Aku tidak pernah merasa kamu nikahi” Jawab Supeni
“Nyatanya kita sudah menikah selama dua belas hari” Kata Sukendar
“Kamu menghitung usia pernikahanmu sendiri, bukan pernikahan kita” Jelas Supeni, sambil duduk dipinggir ranjang.
“Lalu apa arti semua ini?” Tanya Sukendar, heran
“Perlu kamu tahu, aku tak pernah sedikitpun mencintaimu dan aku tak pernah setuju dengan pernikahan ini” Kata Supeni, ketus
“Kamu pikir aku mencintai kamu?” Jawab Sukendar, tak kalah ketus
“Lalu mengapa kau nikahi aku?” Tanya Supeni
“Mengapa kau mau aku nikahi, jika kita tak saling mencintai” Jawab Sukendar, sambil duduk di kursi sudut kamar.
Malam itu perdebatan mereka terhenti, tak ada yang mampu menjawab. Hanya perasaan mereka yang bicara pada dirinya sendiri. Apalagi pintu kamar mereka di ketuk dari luar.
“Ndar, Sukendar di cari kawanmu itu lho, katanya sudah janji” Panggil Ibu Sukendar
“Iya bu” Jawab Sukendar, sambil melangkah membuka pintu kamar.
“Kamu itu mau kemana, lha wong manten anyar kok mau kelayapan” Kata perempuan tua itu, sambil melangkah ke ruang tengah.
“Ada urusan pekerjaan, sebentar juga pulang” Jawab Sukendar.
Sukendar melangkah masuk kamar, menyambar jacket hitamnya. Saat Sukendar akan melangkah keluar kamar.
“Kita harus selesaikan persoalan antara kamu dan aku” Kata Supeni
“kamu tidak perlu cemas, dalam dua hari ini. Antara aku dan kamu sudah tak akan lagi menjadi suami istri. Ingat kamu juga jangan menyesal atas tindakanmu ini” Ucap Sukendar, melangkah keluar kamar.
Ketegaran yang Supeni sembunyikan dan ia pertahankan ketika berhadapan dengan Sukendar akhirnya runtuh. Tangis Supenipun pecah. Betapa ia sangat menyesal, telah memperlakukan laki-laki yang syah menjadi suaminya itu. Supeni sadar, bahwa Sukendar juga tak pernah mencintainya. Malam itu, Supeni terus menangis sesugukan. Keangkuhan telah membutakan hatinya, kesombongannya telah telah mengecewakan suaminya yang telah mencoba mencintai dan memperhatikannya. Supeni terus disergap perasaan bersalah yang bertubi-tubi. Hingga mengingatkan pada pesan Ibunya, menjelang pesta perkawinan berakhir.
“Cintailah suamimu, seperti kamu mencintai dirimu sendiri yo nduk” Ucap Ibu Supeni
“Iya bu” Jawab Supeni
“Kamu janji sama Ibu” Tanya perempuan itu, penuh harap
“Peni janji Bu” Jawab, Supeni, sambil memeluk Ibunya.
Ingatan itu membuat Supeni, dengan serta merta melangkah di depan cermin. Ia usap kedua matanya yang sembab, Ia menatap wajah cantiknya dengan senyum merekah.
“Siapapun kamu, kamu sudah menjadi suamiku. Mulai malam ini aku akan abdikan seluruh hidupku padamu” Janji Supeni, dalam hati.
PAGI MEREKAH. Supeni nampak gelisah sebab semalaman Sukendar tidak pulang. Supeni pagi itu, ingin menunjukan rasa cinta dan perhatihannya pada Sukendar. Ia sengaja bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Namun sampai menjelang sore, Sukendar tak menampakan batang hidungnya.
“Mungkin Sukendar langsung kerja” ucap Ibu mertuanya
“Mungkin juga Bu” Jawab Supeni, pelan
“Kalau sampai maghrib belum pulang, kau susul saja ke rumah Joko” Kata perempuan tua itu.
MALAM MENJELANG. Angin mengibaskan udara basah. Supeni melangkah dengan segenggam harap, Sukendar akan memaafkan atas perlakuaannya selama ini. Ia terus melangkah, menuju rumah Joko di pojok desa. Sunyi malam tak membuatnya resah, rasa cinta yang ia tumbuhkan dalam hati terus mendorongnya agar cepat sampai ke rumah temen suaminya itu.
“Mas Sukendar ada Pak? Tanya Supeni, setelah sampai kerumah Joko
“Lho pergi sampai joko,dari tadi pagi” Jawab laki-laki tua itu
“Tidak bilang mau kemana pak?” tanya Supeni, gelisah
“Lha katanya, ada pekerjaan penting itu” Jelas laki-laki tua itu
“Kalau begitu saya pamit Pak” Ucap Supeni, sambil melangkah pergi.
“Ya, hati-hati Nak” Jawab laki-laki tua itu, sambil menatap kepergian Supeni.
MALAM SEMAKIN LARUT,Bulan bercahaya perak. Supeni mempercepat langkahnya. Ia merasa ada langkah yang membuntuti dibelakangnya. Ia berhenti sejenak, untuk menyakinkan bahwa ada orang yang sengaja membutinya. Supeni tiba-tiba di sergap ketakutan yang luar biasa. Ketika sesosok tubuh kekar, dengan penutup muka sudah berdiri di depannya.
“Siapa kamu!!” Teriak Supeni, gemetar
Sosok kekar itu, tak menjawab pertanyaan Supeni. Namun dengan cepat meraih tangan Supeni dengan paksa. Supeni meronta-ronta dengan ketakutan yang luar biasa. Teriakan-teriakan Supeni lenyap oleh gelapnya malam. Tubuh kekar itu, terus menyeret Supeni dalam semak-semak. Lalu dengan gesit merobek baju Supeni.
“Tolong!!! Tolong!!! Jangan!!!” Teriak Supeni, sambil terus meronta sekuat tenaga.
Teriakan dan rontaan Supeni, membuat sosok kekar itu, semakin buas. Namun tiba-tiba
“Plak!! Plak!!” Bogem mentah, mendarat di kedua pipi Supeni
Pukulan itu, membuat kepala Supeni pening. Tenaganya semakin lemah hingga rontaan dan teriakan supeni semakin tak bertenaga dan pingsan. Sosok kekar itu, dengan beringas melepas pakaian Supeni dengan paksa. Lalu dengan leluasa memperkosa tubuh tak berdaya itu, bagai anjing kelaparan.
BULAN TERTUTUP AWAN. Burung malam menjadi saksi kebiadaban anak manusia. Angin menebarkan dingin kebengisan. Sukendar duduk di teras rumah gelisah.
“Kamu susul istrimu, sejak sore Supeni mencarimu” Kata Ibu, Sukendar
“Sebentar lagi juga pulang” Jawab Sukendar
“Kalau kamu tidak mau mencari istrimun biar aku yang cari!!” bentak perempuan tua, sambil melangkah keluar menemui Pak RT. Sukendar dengan perasaan gelisah mengikuti Ibunya ke rumah Pak RT.
MALAM itu, dengan cepat Pak RT mengumpulkan warga. Orang-orang dengan membawa obor berkumpul di depan rumah Pak RT.
“Pardi kamu ajak beberapa orang ke rumah Joko, tanya apa Supeni tadi kesana” Perintah Pak RT
“Iya Pak” Jawab Pardi, sambil melangkah diikuti beberapa warga
“Yang lain ikut aku, kita susuri jalan yang kira-kira dilalui Supeni” Ucap Pak RT tegas
“Inggih!!” sahut warga
BULAN TERUS BERJAGA KELAM, Supeni dengan tubuh lunglai, menangis meratapi nasipnya. Ia merangkak mengambil pakaian yang telah robek, untuk menutupi tubuhnya. Ia terus menangis, perasaannya hancur. Ia telah kehilangan kehormatan yang selama ini di jaganya. Dengan sisa-sisa tenaga, Supeni melangkah pelan. Namun baru beberapa langkah, ia sempoyongan.
“Buuk” Supeni terjatuh dan pingsan
Suara itu terdengar Pardi dan beberapa warga, yang berjalan beberapa meter dari Supeni jatuh. Mereka cepat lari kearah suara.
“Ya, Allah Mbak Supeni” Ucap Pardi, sambil melepas sarungnya untuk menutupi tubuh Supeni.
“Cepat panggil Pak RT” Perintah Pardi
“Yo!!” Ucap salah satu warga, sambil berlari
Dengan cepat tempat itu, jadi ramai. Orang-orang saling berbisik, siapa kiranya yang melakukan perbuatan tak berprikemanusiaan itu.
Sukendar dengan cekatan, membopong tubuh istrinya itu ke rumah.
SEPANJANG MALAM Supeni menangis, memohon maaf pada Sukendar. Namun Sukendar hanya tersenyum tipis, betapa rencananya telah berhasil. Meruntuhkan kesombongan dan keangkuhan Supeni.

Sanggar Komunitas Seni Timoho Yogya, 2004

Perang


ASAP HITAM, membumbung di angkasa. Kobaran api melalap rumah Dalijo yang berdinding papan itu, tanpa menyisasakan harta seperserpun. Dari mulai kasur,lemari,baju dan beberapa perkakas rumah tangga hancur menjadi abu. Bangunan rumah yang menjadi pelindung hampir sepuluh tahun itu, rata dengan tanah. Orang-orang kampung yang berusaha memadamkan api tak mampu berbuat banyak.
Pagi itu Dalijo duduk dipinggir reruntuhan rumah yang sisakan asap dibeberapa tumpukan kayu. Pikirannya terus dihantui perasaan heran dan tak mengerti, ia tak habis pikir kenapa semalam emosinya jadi tak terkendali. Ia hanya ingat kalau semalam ia bertengkar hebat dengan istrinya gara-gara saling debat siapa yang bersalah antara Amerika Serikat dengan Irak. Setelah nonton televisi yang menyiarkan penyerangan Amerika dengan sekutunya ke negara Irak. Dan……
“Amerika itu namanya ngawur, sok kuasa!” Ucap, Warni sambil meletakan secangkir kopi di meja.
“Ngawur piye?, kalau tidak diserang sikumis tebal Saddam itu, bisa mencelakakan orang-orang sedunia lho.” Sanggah Dalijo, sambil mensruput kopi pahitnya.
“mencelakakan piye. Lha wong Saddam sudah mengijinkan negaranya digledah dan mau menghancurkan senjata-senjata yang dianggap mengerikan itu” Sahut Warni dengan terus nerocos tak mau kalah
“Tapi belum semua senjata dimusnahkan, makanya Bush marah-marah” Ucap Dalijo, geregetan
“Ya ndak bisa begitu, sama saja itu nama mau menange dhewe, Saddam itu pasti juga ndak mau mengacurkan senjata-senjatanya semuanya. Lha wong diancam mau diserang kok senjatanya mau dihancurkan, itu namanya Saddam bunuh diri” jelas Warni, ngotot
“lha kamu itu Cuma ngotot, ndak mau kalah” Ucap Dalijo, sambil melangkah mematikan TV
Warni dengan terus bicara mengomentari tindakan-tindakan Amerika dengan sekutunya sambil melangkah menghidupkan TV. Mata warni terbelalak di depan televisi, ketika melihat seorang bayi dan beberapa terkapar tanpa nyawa.
“Lihat ini, Amerika itu memang biadab. Bayi dan orang-orang itu tadi tidak salah to, tapi mereka harus mati karena kelakuan Bush itu. Ucap Warni, sinis.
“sudah matikan saja Tv itu” bentak Dalijo
“Biar aku mau lihat, biar kamu juga tahu kalau Amerika itu memang salah. Amerika itu ngawur dan sok kuasa” Ucap Warni, tak kalah keras
Pertengkaran mereka semakin sengit, untuk merebutkan tombol televisi. Mereka saling mematikan dan menghidupkan tombol Tv dan akhirnya Dalijo dengan kemarahan memuncak mengangkat dan membanting Tv yang tak terlalu besar itu.
“Prang.. prang!!” Suara TV pecah, menghentikan perdebatan mereka. Warni duduk diam di sudut ruang dan Dalijo duduk di kursi sambil menahan kemarahan.
Malam itu rumah mereka jadi sepi. Namun tak begitu lama perdebatanpun mulai lagii dan lebih sengit. Suami istri itu bermusuhan bagai Saddam dan George Walker Bush. Mereka saling mencaci, saling menunjukan kekuatan dalam peranya di rumah tangga.
“kalau tidak ada aku kamu pasti kelaparan ndak ada yang ngurus” Ucap Warni, dengan mata tajam.
“Kamu pikir aku ndak bisa hidup tanpa kamu, justru kamu yang ndak bisa hidup” Ucap Dalijo, celelekan.
Malam semakin larut. Perdebatan suami istri itu tak juga reda tetapi semakin memuncak. Beberapa tetangga yang mencoba meleraipun tak digubrisnya.
“Sudah kita cerai saja!!!” Teriak Dalijo, membungkam mulut Warni. Beberapa tetangga berangsur-angsur pergi dari depan rumah mereka, sebab mereka pikir situasinya akan mereda jika sudah bicara perceraian. Para tetangga itu juga sudah tidak mau turut campur kalau sudah membicarakan perceraian.
Warni diam, matanya sembab oleh air mata. Ia tidak mengira kalau Dalijo akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan itu. Sejak mereka berumah tangga kata-kata itu yang selalu mereka hindarkan, pertengkaran apapun boleh tetapi mereka sepakat untuk tidak mengeluarkan kata-kata itu dari mulut mereka.
“Betul apa yang kamu ucapkan itu kang?” Suara Warni, serak
“Kamu pikir aku main-main, aku tidak akan menarik lagi kata-kata yang keluar dari mulutku” Ucap Dalijo, dengan nada tinggi.
“Tapi Kang, apa salah saya hingga Kang Dalijo akan menceraikan aku?” Ucap warni, dengan terus menangis.
“Kita sudah tidak cocok lagi, kita sudah bersembrangan kalau kita teruskan rumah tangga ini, kita akan selalu perang” Teriak Dalijo, emosional
“Sadar Kang, nyebut Kang” rintih Warni, sambil memeluk Dalijo.
Sungguh diluar dugaan sambutan Dalijo terhadap Warni perempuan yang sudah lebih sebelas tahun ia nikahi itu. Pelukan tangan Warni dilepas dan
“Plak!! Plak!!! Plak!!!!” Bogem mentah mendarat ke muka Warni hingga terjerembab dilantai.
Warni menangis sesunggukan dengan muka membiru. Perasaan Warni begitu perih, sedih, marah dan bingung campur aduk. Ia tak mengerti dengan kelakuan Dalijo. Namun tiba-tiba kemarhan Warni tak terbendung lagi, ia merasa dilecehkan dengan perlakuan suaminya itu. Lalu dengan bersijengkat berdiri dan menyambar kursi kayu dan di pukulkan di kepala Dalijo.
“Prak!!!”
Dalijo mengaduh kesakitan dengan memegang kepalanya yang bersimbah darah. Tubuhnya terhuyung dan dengan sisa-sisa tenaganya ia dorong Warni hingga terpelanting kepalanya terbentur tiang rumah hingga tak sadarkan diri. Tubuh perempuan itu, lemas dan ambruk disudut ruang.
“Bajingan!! Perempuan laknat” Ucap Dalijo, sambil terus menendang tubuh yang tak berdaya itu.
Melihat Warni tak bergerak, tidak menyurutkan kemarahan Dalijo, ia lari kedapur mengambil minyak tanah dan ia guyurkan ke tubuh warni dan seluruh dinding rumah.
“Kamu yang kalah dalam perang ini, kau yang mati, kau yang akan terbakar dan menjadi abu lebih dulu. Perempuan busuk !! perempuan sundel!! Kau kalah perang, aku yang menang!!” Ucap Dalijo, sambil tertawa.
Tangan Dalijo meraih korek di kursi dan dengan terus tertawa ia sulut istrinya. Api dengan cepat membakar tubuh perempuan itu. Melihat istrinya mengerang Dalijo justru tertawa terbah-bahak.
“kang tolong kang… tolong” Tubuh itu lalu mengejang dan diam dalam posisi duduk.
Api terus berkobar dengan cepat merembet ke dinding rumah dan melahap seluruh isi rumah. Dalijo terus meloncat keluar dengan terus tertawa puas.
“Aku menang!! Musuhku telah mati!! Perang !! aku menang Perang!!” Ucap Dalijo dengan bangga.
“Sudah Pak, kita harus berangkat ke kantor Polisi” Ucap perwira polisi itu, sambil menepuk pundak Dalijo.
Dalijo melangkah pelan dengan borgol mengunci kedua tangannya. mengunci seluruh kehidupan cinta kasihnya dengan Warni.
“Warni, Aku nyuwun pangapura” Ucap Dalijo dalam hati.

Sanggar Komunitis Seni Timoho Yogya